LAJU REAKSI SN2 DAN SN2
1.
Reaksi sn1
Laju
reaksi bergantung pada banyak variabel beberapa diantaranya dapat dibuat
konstan untuk suatu eksperimen tertentu (misalnya temperatur dan pelarut).
Dalam bab ini dua variabel yang terutama diperhatikan ialah : (1) konsetrasi
pereaksi, dan (2) struktur pereaksi.
Menambah konsentrasi pereaksi yang mengalami reaksi sn2, akan menambah laju terbentuknya produk, karena akan menambah seringnya tabrakan antara molekul-molekul. Lazimnya laju reaksi sn2 berbanding lurus dengan konsentrasi-konsentrasi kedua pereaksi. Jika semua variabel lainnya dibuat konstan dan konsentrasi alkil halida atau konsentrasi nukleofil dilipat-dua kali, maka laju pembentukan produk juga berlipat dua. Jika salah satu konsentrasi dilipat-tiga kan, laju juga akan berlipat tiga.
Menambah konsentrasi pereaksi yang mengalami reaksi sn2, akan menambah laju terbentuknya produk, karena akan menambah seringnya tabrakan antara molekul-molekul. Lazimnya laju reaksi sn2 berbanding lurus dengan konsentrasi-konsentrasi kedua pereaksi. Jika semua variabel lainnya dibuat konstan dan konsentrasi alkil halida atau konsentrasi nukleofil dilipat-dua kali, maka laju pembentukan produk juga berlipat dua. Jika salah satu konsentrasi dilipat-tiga kan, laju juga akan berlipat tiga.
Laju
sn2 = k [rx] [nu:]
karena laju suatu reaksi sn2 bergantung pada konsentrasi dari dua partikel (rx dan nu:-), maka laju itu dikatana order kedua (second order). Reaksi sn2 dikatakan mengikuti kinetika order-kedua. (meskipun reaksi sn2 juga bimolekular, tidak setiap reaksi bimolekular, tidak setiap reaksi bimolekular adalah dari order-kedua dan tidak tiap reaksi order-kedua adalah bimolekular.
karena laju suatu reaksi sn2 bergantung pada konsentrasi dari dua partikel (rx dan nu:-), maka laju itu dikatana order kedua (second order). Reaksi sn2 dikatakan mengikuti kinetika order-kedua. (meskipun reaksi sn2 juga bimolekular, tidak setiap reaksi bimolekular, tidak setiap reaksi bimolekular adalah dari order-kedua dan tidak tiap reaksi order-kedua adalah bimolekular.
2.
Reaksi sn1 (fessenden)
Telah
disebut di atas bahwa laju reaksi khas sn1 tidak bergantung pada konsentrasi
nukleofil, tetapi hanya bergantung pada konsentrasi alkil halida.
Laju
sn1 = k [rx]ini disebabkan oleh sangat cepatnya reaksi antara r+ dan nu:- tetapi konsentrasi r+ sangat kecil. Kombinasi cepat antara r+ dan nu:- hanya terjadi bila karbokation itu terbentuk. Oleh karena itu laju keseluruhan reaksi ditentukan seluruhnya oleh cepatnya rx berionisasi dan membentuk karbokation r+. Tahap ionisasi ini (tahap 1 dalam reaksi keseluruhan) disebut tahap penentu-laju (rate-determining) atau tahap pembatas-laju (rate-limiting). Dalam reaksi bertahap apa saja, tahap paling lambat dalam deret keseluruhan adalah menentukan laju.
Suatu reaksi sn1 bersifat order pertama (first order) dalam laju karena laju itu berbanding lurus dengan hanya konsentrasi satu pereaksi (rx). Reaksi ini adalah reaksi uni-molekular karena hanya satu partikel (rx) yang terlibat dalam keadaan transisi tahap penentu-laju (angka “1” dalam sn1 merujuk ke unimolekular).
REAKSI ELIMINASI ALKIL HALIDA
Alkil
halida adalah turunan hidrokarbon di mana satu atau lebih hidrogennya diganti
dengan halogen. Tiap-tiap hidrogen dalam hidrokarbon potensil digantikan dengan
halogen, bahkan ada senyawa hidrokarbon yang semua hidrogennya dapat diganti.
Senyawa terfluorinasi sempurna yang dikenal sebagai fluorokarbon, cukup menarik
karena kestabilannya pada suhu tinggi.
Reaksi eliminasi adalah suatu jenis reaksi organik dimana dua substituen
dilepaskan dari sebuah molekul baik dalam satu atau dua langkah mekanisme.
Reaksi satu langkah disebut dengan reaksi E2, sedangkan reaksi dua langkah disebut
dengan reaksi E1. Simbol angka pada huruf E (yang berarti elimination) tidak
melambangkan jumlah langkah. E2 dan E1 menyatakan kinetika reaksi yaitu
berturut-turut bimolekuler dan unimolekuler.
pada Alkik
halida sekunder (20) akan terjadi persaingan antara SN2 dan E2 serta
sering mengasilkan produk campuran. Jika memakai basa lemah dengan pelarut tak
berproton yang polar, hasil reaksinya adalah SN2, namun jika memakai basa kuat
seperti CH3CH2O-, OH-, atau NH2-,
maka hasil E2 lebih dominan.
Mekanisme E2 dan E1
Jika alkil
halida mempunyai atom hidrogennya pada atom karbon yang bersebelahan dengan
karbon pembawa halogen akan bereaksi dengan nukleofil, maka terdapat dua
kemungkinan reaksi yang bersaing, yaitu substitusi dan eliminasi.
Pada reaksi
substitusi, nukleofil menggantikan halogen. Pada reaksi
eliminasi, halogen X dan hidrogen dari atom karbon yang bersebelahan
dieliminasi dan ikatan baru (ikatan p) terbentuk di antara karbon karbon yang pada mulanya
membawa X dan H. Proses eliminasi adalah cara umum yang digunakan dalam
pembuatan senyawa-senyawa yang mengandung ikatan rangkap.
Seringkali
reaksi substitusi dan eliminasi terjadi secara bersamaan pada pasangan pereaksi
nukleofil dan substrat yang sama. Reaksi mana yang dominan, bergantung pada
kekuatan nukleofil, struktur substrat, dan kondisi reaksi. Seperti halnya
dengan reaksi substitusi, reaksi elimanasi juga mempunyai dua mekanisme, yaitu
mekanisme E2 dan E1.
Mekanisme E2
E2 merupakan
reaksi eliminasi bimolekuler. Reaksi E2 hanya terjadi dari satu langkah atau
hanya terjadi proses satu tahap dimana ikatan karbon-hidrogen dan
karbon-halogen terputus membentuk ikatan rangkap C=C. Reaksi E2 dilangsungkan
oleh alkil halida primer dan sekunder. Reaksi ini hampir sama dengan reaksi
SN2. Reaksi E2 secara khusus menggunakan basa kuat untuk menarik hidrogen asam
dengan kuat. Nukleofil bertindak sebagai basa dan mengambil proton (hidrogen)
dari atom karbon yang bersebelahan dengan karbon pembawa gugus pergi.
Pada waktu yang bersamaan, gugus pergi terlepas dan ikatan rangkap dua
terbentuk.
Mekanisme E1
E1 merupakan
reaksi eliminasi unimolekuler. Mekanisme E1 mempunyai tahap awal yang sama
dengan mekanisme SN1. E1 terdiri dari dua langkah mekanisme yaitu ionisasi dan
deprotonasi. Ionisasi adalah putusnya ikatan hidrogen-halogen membentuk
intermediet karbokation. Reaksi E1 biasanya terjadi pada alkil halida tersier.
Reaksi ini berlangsung tanpa kuat, melainkan dengan basa lemah (dalam suasana
asam dan suhu tinggi). Reaksi E1 mirip dengan reaksi SN1, karena sama sama
menggunakan reaksi intermediet karbokation. Tahap lambat atau penentuan ialah
tahap ionisasi dari substrat yang menghasilkan ion karbonium.
Kemudian,
ada dua kemungkinan reaksi untuk ion karbonium. Ion bisa bergabung dengan
nukleofil (proses SN1) atau atom karbon bersebelahan dengan ion karbonium
melepaskan protonnya, sebagaimana ditunjukkan dengan panah lengkung, dan
membentuk alkena (proses E1).
Dikarenakan pada kolom komentar tidak dapat mengirim gambar saya akan mencoba menjawab berdasarkan teori yaitu E1: pertama X-
BalasHapuslepas membentuk karbokation
suatu basa abstrak proton dari karbokation
E2: Transfer terpadi proton ke suatu basa dan
perginya gugus lepas.
gambarnya bisa didownload pada pdf.
http://personal.its.ac.id/files/material/2790-pburhan-chimie-Kimorga%2009%20-%20Substitusi%20dan%20Eliminasi.key.pdf
Saya Syafira Tiaradipa (A1C114002) akan mecoba menjelaskan permasalhan dari saudari ayu
BalasHapussama seperti kesulitan saudari yelda bahwa dikarenkan pada kolom komentar ini tidak dapat menampilkan gambar ataupun foto maka saya akan menjealskan contoh reaksi E1 danE2 secara singkat
reaksi E1 merupakan reaksi eliminasi unimolekuler contoh dari reaksi E1 terjadi pada alkil halida tersier.sedangkan E2 merupakan reaksi eliminasi bimolekuler contoh dari reaksi E2 terjadi pada alkil halida primer dan sekunder.
untuk contoh lebih jelasnya dapat dilihat pada link berikut ini
http://www.slideshare.net/elfisusanti/reaksi-eliminasi-1961874
demikianlah penjelasan singkat dari saya,
terima kasih semoga membantu
Baiklah saya akan mencoba membantu menjawab permasalahan dari saudari Rina. Dikarenakan di kolom komentar tidak dapat mengirim gambar maka saya akan mencoba memberikan link contoh dari E1 dan E2 selain yang ditambahkan oleh teman kita sebelumnya yaitu saudari Yelda dan saudari Syafira. Adapun linknya dapat dilihat yaitu http://www.ilmukimia.org/2013/04/perbedaan-mekanisme-sn2-sn1-e1-dan-e2.html
BalasHapusE1
BalasHapus– membentuk karbokation
– karbokation memberi proton pada basa lalu terbentuk alkena
– basa merebut proton dari atom C (beta, C yang berdampingan dengan C+)
E2
– nukleofil langsung mengambil proton dari atom C (beta) pada atom C gugus pergi
– tidak terjadi pembentukan karbokation
– pembentukan secara serentak
untuk contoh reaksinya bisa di lihat di blog saya rina ya hehehe